Biarkan Kucemburu! Agar Kukenakan Selendang CintaMu



Biarkan Kucemburu!

Agar kukenakan selendang cintaMu

Biarlah api cemburu itu terhadir

Agar kubermuhasabah

dari setitik bulir nadir

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Salam memberkah langit dan salam terindah

Teruntuk sahabatkufillah, mujahidah shalihah

Di Bumi Allah,

Lampung nan elok memesonai jiwa

Bibir itu selalu bergetar, kala sepenggal nama sangKekasih dilafalkan. Hatinya pun bergeletar jua kala keagunganNya dihamparkan di hadapannya, lewat serenada merdu ayat Kauli maupun pesona kuas ayat KauniNya bersimfoni nan menyapa lembut hati.

Alhamdulillah! itulah sebaik-baik riak ucapan hamba, dan gerak sosok hamlud dakwah. Itulah awalan ungkapan terindah, permulaan kata yang penuh berkah. Karena hanya Dia yang terlayak mengenakan kata keagungan dan segala pujiucap dari makluk ciptaNya.

Allaahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali wa ashabihi muhammad. Sesiapa saja yang melafalkan ini sekali, maka Allah Azza wa Jalla kan membalasnya dengan kelipatan sepuluh kebajikan.

Ukhtifillah,

Sesungguhnyalah ada beban memberat menggelayuti dada. Karena seharusnya kala menuliskan artikel-artikel, apu’ biasanya harus didampingi beberapa kitab. Afwan, karena kitab dan buku- buku apu’ sudah dikepak dan sudah teronggok di kos baru, sedang apu kala membuat artikel ini masih berdiam di kos lama. Tapi, jika apu’ menundainya, apu’ takut lupa.. terlupa akan seikat janji. Dengan keterbatasan maraji’ (rujukan) serta kesempatan masa yang mepet karena akan mudik (ke Riau) inilah, apu cobai untuk membuat artikel tentang “Muhasabah Diri”.

Semoga untaian-untain bait kalimat yang sikit ini bisa bermanfaat. Semoga katanya bak manik-manik yang teruntai pesan hikmah mengiringinya.

Api cemburu ada

Karena ada sumbu cinta nan menyala”

-Apu’ El Indragiry

Api Cemburu itu...

Cemburu? Apa hubungannya dengan muhasabah diri, ya? Seraut tanya mungkin hinggap di benak kita. Relevankah cemburu dengan kekaitan muhasabah?

Cemburu... mungkin kata ini sudah banyak terukir di syair lagu, pun begitu di puisi-puisi kalbu para pujangga dunia nan termasyhur.

Cemburu masih terlingkup dalam makna cinta, kata Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam salah satu kitab fenomenalnya, Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu (Pssst, ini salah satu kitab favorit apu’ loh! Rahasiakan, ya! he-he-he). Cemburu dan cinta takkan terpisah kata dan maknanya.

Orang bisa saling bunuh hanya karena satu kata ini, CEMBURU. Masih tak lekang dari ingatan kita alkisah moyang kita, Habil dan Qabil??? Terkarenakan cemburu buta, Qabil membunuh saudara sedarahnya, Habil. Karena apa? CINTA.. jadi cemburu... cinta... cinta dan cemburu selalu kait mengait satu sama lain. Amboi... dahsyattt nian!

Sebagai hamlud dakwah tentunyalah kita mempunyai definisi makna tersendiri. Cemburu dan cinta adalah keuniversalan kata yang masih mempunyai beberapa interpretasi makna nan mendalam (‘amiq), tergantung manusianyalah bagaimana ia menyikapinya secara bijak bestari.

Cemburu karenaMu

Menarik untuk ditelaah. Kata ini (cemburu) karena Allah swt. Dalam ihwal bagaimanakah cemburu ini terkait dengan Allah Ta’ala?

Cemburu perdana,

[Melihat Syariat (hukum-hukum Allah dilupai manusia]

Cinta itu pasti cemburu.” Api cemburu menyala karena letupan cinta.

Nah! Seorang pengemban dakwah pastilah cemburu melihat manusia hidup dengan pongahnya dengan hukum-hukum jahil (kufur). Bagaimana ia tidak cemburu melihat hukum AlQuran dan as Sunnah tak lagi digunakan manusia?!

Kala badai cemburu telah membuncah-buncah di dadanya, maka hatinya pun tergerak untuk mengejawantahkan segenap energi cinta kepadaNya. Lalu ia pun bergerak teruntuk mewujudkan hukum-hukumNya kembali agar mencahayai alam semesta, lalu bias kemilaunya melenyapkan hukum kufur buatan tangan nista manusia (wahdy hukmi).

Jika manusia belum tergerak untuk memerjuangankan hukumnya ini, maka ucapan cinta kepadaNya (syahadatain) masihlah cinta sebatas pemanis di bibir belaka. Cinta semu! Palsu! Menipu!

Bagaimana mungkin ia berkata cinta kepada Sang Pencipta Jiwa, namun kala hukumNya tersia, hatinya pun tak terbetik sedikitpun jua teruntuk menegakkan kembali hukum-hukumNya.

Cemburu kedua

[Kala kekasih kekasihNya (khalilullah, Muhammad saw.) terhina risalah dan namanya.]

Inilah badai ujian cemburu kedua, melihat sang kekasih jiwa (yang kita nantikan seucap kata syafaatnya di Hari Akhir) ia terhina oleh manusia, Wilders, Ahmadiyyah dan sebagainya. Lagi-lagi hatinya sedikitpun tak terbetik untuk membelai nama harumnya. Jangankan membela, malahan ia dukung para penghina Nabinya... Sungguh polahtingkah nan aneh!

Kala hati terikat simpul cinta Nabi, maka ia bersegera mengikuti jejak cinta sang Nabi. Ia begitu tersulut api cemburu kala risalah dan nama sang Nabi terhina. Ia korbankan apa saja yang ada di dirinya untuk membela sang kekasih tercintah. Jika sang kekasih terhina, ia tergugu diam saja, lalu adakah sekelumit cinta yang masih menyisa di palung jiwa Muslimnya? Tanyailah KENAPA di lubuk jiwanya.

Aduhai.. Al Musthafa (insan terpilih, Muhammad saw.) Lihatlah umatmu kini... mereka terbelit badai fatamorgana dunia yang fana, menjual-jual risalah agungmu demi sebetik dunia yang kan binasa. Lihatlah kini !! demi segepok uang dari Yahudi ia rela menjual agamanya...

Cemburu ketiga,

[Melihat kemaksiatan terhampar di hadapanya]

Mendiamkan kemungkaran

sama dengan kemungkaran itu sendiri”

-Ibnu Hazm El Andalusy

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla begitu dirundung badai cemburu kepada manusia. Karena apa?

Allah akan cemburu pabila ia melihat manusia membiarkan kemaksiatan, kezaliman, kelaliman di alam raya bersimaharajalela.

Ia cemburu kepada Ulama’ (jamak dari isim, ‘alim/orang yang paham, tahu, mengerti), Kiai, Ustadz, Ustadzah, Muballigh. Apabila ia mendiamkan kemungkaran dan kezaliman yang terhidang di meja dakwahnya. Ia terbungkam seribu bahasa entah dengan selaksa alasan apa pun, apakakah itu karena.. ini belum waktunya dakwah seperti itu, ini bukan kewenangan kita, atau ada lagi yang berujar... inikan tergantung orangnya kalau orangnya baik pasti baiklah sistemnya. Ia selalu mencari sejuta alasan. Lalu, karena dakwah memerbaiki diri, ia lupa menegakkan nahi munkar.

Maka Allah cemburu kepada orang yang tak cemburu melihat kemaksiatan menjamur.

Maka! Bakarlah cemburumu kala melihat orang korupsi, berzina, judi, minum khamar, yang masih istiqomah memakai hukum kufur (demokrasi, nasionalisme, pluralisme, fanatisme kesukuan dan sebagainya).

Cemburuilah... jika melihat ada sebagian ulama su’ (buruk) yang menentang syariat Islam dan Khilafah Islamiyah kembali tegak di alam semesta.

Biarlah cinta yang melukiskan keindahannya!

Dengarlah puisinya sang maestro ini,

Aku ragu akan adanya diriku

Tapi cinta menyatakan bahwa

Aku ada!”

-Muhammad Iqbal

Tak lengkap dan kurang sedap rasanya membincangkan cemburu tanpa cinta.

Cinta! Lagi-lagi kata ini masih terlalu lebar maknanya.

Baiklah, apu’ hanya akan membincangkannya secara spesifik Cinta kepada Allah semata saja ya...

Takkan pernah ada kekasih yang tak dicari kekasihnya

Jika kilat cinta telah menyambar sekeping hati,

Maka, ketahuilah

bahwa ada nyala cinta di kepingan hati yang lain

Jika CINTA Allah telah tumbuh di hatimu,

Tak diragukan lagi

Allah pasti kan menaruh sejuta CINTA kepadamu

Begitulah dahsyatnya pesona cinta. Jika cinta belum menyala bagaimana ada badai rasa cemburu di relung kalbumu akan terhadir?!

Isyarat-Isyarat matasukma cinta,

1. Banyak mengingat nama yang dicintai

2. Tunduk kepada perintah yang dicintai

3. Memerhatikan perkataan yang dicintai

4. Mencintai apa yang dicintai sang kekasih

Cinta Paling Agung itu...

Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah

Dengan menaati sepenuh hati

Kepada keduanya

Sepenuh ridha terhadap segala perintah Allah

dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”

Inilah cinta teragung itu. Inilah festival ujian manusia apakah degup-degup nafas cintanya karena Allah dan RasulNya ataukah karena ihwal lain.

Itulah CINTA sesungguhnya. CINTA, yang tercermin dari keshahihan (kelurusan) ideologi yang dipahami oleh kita, mabda atau ideologi (Islam sebagai pedoman hidup)lah tentunya. Dari ideologi yang dipahami, dicerapinya itulah memancar sebuah sistem hidup (aturan), aturan yang terrambil hanya dari Kitabullah dan as Sunnah. Ideologinya tak pernah melenceng seujung rambut pun...

Tanpa cinta ini, hidup kan terasa hambar dirasa. Tak begitu bermakna, keluh kesah jiwanya, keruh matabatinnya. Kelam jalan hidupnya. Pekat hati dan jiwanya.

Duhai Cermin!

Beningkan jiwaku!

Ah usailah sudah pembahasan cemburu dan cinta, cinta dan cemburu tak begitu memengaruhi pabila kita membolak-balikkan dua kata itu.

Ia selalu memilin, ia selalu berkelindan. Ia enggan memisah atau dipisah.

Masih tersisakah degup nafas kita...

Masih terdetakkah degupan jantung kita...

Masihkah berdenyutkah urat nadi-nadi kita...

Masihkah kita menikmati hangatnya cahayawi mentari pagi

Masihkah teduhnya purnama hinggap di atas kepala kita...

Masihkah mewarna indah pelangi menyapa jiwa kita...

Apakah kita sudah dinaungi cintaNya?

Cinta sunnah RasulNya?

Apakah kita telah cemburu...?

Cemburu kala hukum Allah tak ada di mayapada

Cemburu kala nama agung Nabi Saw terhina

Sudahkah sembah bakti tulus dan tersuci dari hati

Teruntuk sepasang cinta yang menghadirkan kita di dunia

Yang merawat kita dengan pesona kasih tulusnya

Dekapannya

Pelukannya

Kecupan hangatnya

Sudahkah??!!

Aduhai hatiku...

Apa jawabmu???

Apakah engkau sudah membening?

Hingga bisa kubecermin?

Duhai Pemilik Jiwa...

Duhai Pemilik semesta raya

Jangan matikan rohku

Jangan matikan jiwaku

Jangan matikan sukmaku

Jangan ... jangan

Sebelum kubasahi diri mendekap taubah nasuha

Sebelum kepeluk aura pelangi maghfirahMu

Sebelum kepeluk syafaat baginda tercinta, Rasulullah saw, nan memulia

Jangan jauhkan kami dari jalan sunyi ini

Jalan cintanya para NabiMu

Sahabat-sahabat Rasulullah nan memulia

Dan generasi terbaik sesudahnya

Semogalah kami masih mencicipi

Lezat dan menikmatnya menerapkan syariatMu

Menebarkan dakwah Islam ke sepenuh dunia

Berjihad dengan tetes darah, raga, jiwa kami

Mengibarkan panji Laa ilaaha illallah muhammad rasulullah...

Duhai Cinta ... Duhai Cemburu

Cerminkanlah di hatiku...

Allaahu a’lam bi ash shawaab”

Disaat detik-detik kepulanganku ke Riau

YogyaMu, 070708 20.38

Sahabatmufillah,

Apu’ El Indragiry

[Penyair, Tinggal di Yogya]

                            

Mengikat Makna dengan Gubahan Kata

Acapkali kudengar selentingan orang berujar begini, “Aku punya banyak ide lho... tapi gimana ya... kok aku tak bisa menuangkannya dalam ranah tulisan?

Kerap kutemui sahabat-sahabatku mengujarkan kata yang sama, baik temanku di dunia maya maupun di ranah nyata, bahkan murid-murid menulisku pun berkeluh kesah dengan nada nan sama. Mereka sejujurnya beroleh ide-ide nan melimpah ruah, pemikiran jenius, plot novel yang aduhai dahsyat nian!... tapi ya itu... mereka terbentur dinding kukuh bernama “Kegamangan dalam menuangkan katanya”.

Senyatalah! Bahwa sesungguhnya keahlian pasti terperoleh dengan keringat perjuangan. Di kesempatan ini... kembali kuyakinkan dirimu nan sedang dihantam badai ragu... Percayalah! Tidak ada bakat alamiah dalam ihwal tulis-menulis, apatah lagi dalam membuat cerita fiksi.

 

Menjadi Penulis itu bukan bakat, tapi bakat yang diperjuangkan. Entah dia nelajar otodidak pun atau lewat organisasi profesional semisal FLP atau AlPeProSa.

Menjadi penulis tidaklah instan, tapi perlu proses nan melelahkanjiwa, perlu kesabaran, ketelitian dan yang paling penting, latihan! Latihan! Latihan!

Kunci menjadi penulis: Banyak-banyak menyeduh kata dengan membaca karena ia lah pembuka cakrawala dunia, banyak belajar dari penulis lain dan giat serta liat dalam berlatih merangkai kata.

Adakah kaujumpai seorang anak kecil yang bisa naik sepeda tanpa berlatih?

Berlatihlah! Tulis! Tulis! Tulis!

Terkemudian, ikatlah makna yang kauperoleh dengan untaian manik mutiara kata.

 

Selamat berkarya nan menggugah dan mengubah dunia!!

Yogya, 9 Juli 2008 23.16

Sahabatmu fillah,

Apu'

Penyair, tinggal di Yogya

Biarlah Kupilih Jalan Sunyi Agar Ridha Allah Selalu Membersamai

Biarlah Kupilih Jalan Sunyi

Agar Ridha Allah Selalu Membersamai

Qul hadzihi sabiili..”

Katakanlah,”Inilah Jalanku..”

Yusuf 108

Semogalah petunjuk cahayawiNya selalu menyala-nyala di dalam derap langkah kita! Meringankan kita teruntuk berucap kebenaran (lisaanul haqq) menebarkan kejelasan (al bayan) melalui ayat-ayat langitNyalah dengan sejelas-jelasnya penjelasan. Semogalah kita termudahkan untuk menyajikan yang haqq adalah haqq dan menuturkan yang batil tetaplah terkatakan batil dengan bias qaulan kariima (perkataan yang baik) dengan lidah lembut yang senantiasa berucap lurus dengan kekata kebaikan (qaulan syadiida).

Semogalah kemunduran kaum Muslimin kini, bukanlah sebagai sebab sejuta apologi kita teruntuk abai dan acuh tak acuh untuk menegakkan perintah kebajikan (’amar maruf) dan berusaha sekuat energi yang ada menumbangkan segala puncak kezaliman dan kelaliman (nahi munkar).

Menyuruh kebaikan (amar makruf) memanglah mudah, apalagilah dalam ranah ibadah (ubudiyyah). Yang paling sulit adalah mencegah kemungkaran, kezaliman dan kerakusan, kelaliman. Karena mencegah lebih susah, ada badai ujian, cacian dan cercaan bahkan pembunuhan dari penguasa tiran.

Mengapalah, jalan sunyi ini banyak ditakuti kebanyakan insan, karena badai ujiannya memang berat, seberat mendukung sebongkah gunung berapi. Inilah beban dakwah, yang bahkan gunung yang menjulang pun menolaknya, angin jua, api turut serta mengingkari... ya karena dakwah agung ini taklah mudah. Hanya sosok-sosok insan terpilih sajalah yang diberi kekuatan teruntuk menyampaikan dakwah nan agung ini ke semesta raya. Tanpa didera rasa takut, gemetar akan kekuatan musuh, ataupun gentar dengan olok-olokan.

Semogalah kita termasuk segolongan umat terpilih (tanpa melihat haraki) tanpa berlebihan dalam kefanatikan mazhab yang menjerumuskan ego diri dan semogalah peran serta kita yang turut memerjuangkan kebangkitan Islam kembali.

Semogalah lisan-lisan agung kita, hanya berucap kebenaran tanpa ’pembenaran’, melenyapkan egoisme kefanatikan yang mematikan ruh dan jiwa fitri kita.

Semogalah, pesona dunia dan materi bukanlah penghalang teruntuk berjuang. Sungguh hinalah sang insan, pabila akhirat ia abaikan. Memilih kenikmatan duniawiah yang akan terlenyapkan. Sungguh celakalah! Untuk sesiapa yang menjual keabadian dengan kefanaan. Sungguh kurangberuntunglah insan yang mencicipi dan tenggelam oleh Telaga Nikmat Dunia dan mengacuhkan Telaga Surga nan membaqa.

-Sejuta Pesona Ashaabul Kahfi-

Sebuah kisah bukanlah hanya untuk dibaca, tapi untuk berkaca. Acapkali manusia hanya selintas saja dalam memahami fenomena cerita. Cerita yang masyhur ini termaktub dalam AlQuran tersebut dalam surah Al Kahfi.

Jika kita diberi desahan napas yang masih... cobailah merenungi sejuta kisah ini. Kisah perjuangan beberapa pemuda yang teguh memegang ikatan agama karena kezaliman penguasa. Sebuah kisah indah terbalut selaksa hikmah.. agar kita meraup sejuta ibrah dalam menjalin fikrah dan thariqah.

Inilah fenomena keteguhan jiwa para pengemban dakwah dalam memertahankan buhul-buhul tali agama. Inilah puncak kejuangan kala iman dilanda badai cobaan dan kegoncangan.

-Berjuang dengan Apa yang kita bisa!-

Ada yang menangis dan hanya merenungi nasib tersebab oleh keterpurukan kaum Muslimin kini. Mereka hanya menyalah-nyalahkan orang lain saja kerjanya. Ia hanya diam tak bergerak. Ada juga yang hanya cuek bebek dengan fenomena ketertindasan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Yang penting dirinya kaya, yang penting dirinya masuk surga... yang penting...... yang penting....

Di balik setiap musibah (bala’) ada sejuta hikmah pabila jiwa kita ingin kembali merengkuh seraup ridha Allah. Di balik ketercobaan ini, ada yang kian bersemangat teruntuk membangun kejayaan Islam. Menebarkan salam kemuliaan Islam. Tanpa diembel-embeli pamrih, kekuasaan, tahta dan wanita. Ia selayaknya mengikuti teladan dan metode dakwah Rasul saw dalam mengemban dakwah nan mulia, tak melenceng seujung rambut pun dari titah dakwah Rasulullah saw. Ideologi yang diyakini adalah Islam, lalu ideologi itu diembannya dalam keseharian. Ia tak pernah memilah antara kewajiban individu (shalat, zakat, puasa) dan kewajiban jama’ah (daulah/negara) seperti jihad, mengambil ghanimah, kharaj, fai, rajam, potong tangan dan sebagainya.

Barang siapa yang meyakini bahwa Islam hanya beribadah saja, ia telah sekuler, pabila ia tak pernah mengamalkan Islam dalam tataran bernegara (siyasah/politik) karena Islam tak pernah memisahkan antara Ibadah, Muamalah, Siyasah, Daulah dan Uqubah. Itulah pesona Islam. Ia pun dalam hatinya tak pernah terbetik untuk membela hak-hak umat yang terzalimi, Nabinya dihinakan lisannya pun tetap terbungkam. Karena ia hanya mementingkan ego pribadinya sendiri (yang penting dirinya baik dan masuk surga). Ia tak pernah cawe-cawe dalam masalah keummatan, karena baginya itu bukan wilayahnya, itu belum masanya. Adakah Nabi saw. mengajarkan dan mencontohkan ihwal demikian?

Adalagi sebagian umat yang meyakini bahwa politik (siyasah) terpisah dengan agama, ia menganggap dalam ketatanegaraan Allah tak mempunyai hak untuk mencampuri dalam urusan uqubat dan daulah. Mereka membikin-bikin sendiri hukum yang berjauhan dari akidah (wahdy hukmi). Ia telah melangkahi keagungan dan kemuliaan Allah dalam membuat hukum. Allah swt. Seolah-olah hanyalah sang Pencipta diri saja, Dia tak berhak mengatur manusia. Inilah kepeminpinan sekuler dalam benak dan jiwanya. Ia tak pernah meyakini bahwa, ”TIAP BUATAN MANUSIA PASTI FANA DAN BINASA.” entah itu ideologi, hukum, bentuk negara dan sebagainya, bila itu bukan berasal dari Sang Khalik, yakinlah semua itu kan binasa... binasa... binasa.

-Menelusuri Jejak Sunyi sang Nabi-

Aduhai... jika kita menelusuri jejak dakwah dan metode Rasul Saw. Pasti kedua pendapat itu langsung terbantah. Sunnah (perilaku, kata, diamnya Rasul) terlingkup menjadi dalil yang kesemuanya berasal dari Allah azza waJalla jua.

Rasulullah saw. Para sahabat nan mulia dan generasi terbaik sesudahnya selalu berpijak kepada Kitabullah dan Sunnah. Tak pernah melenceng sedikitpun jua dari garis ketentuan Allah Swt. Karena Islam bukan agama peribadatan (kerahiban) layaknya Yahudi dan Nashrani tapi Islam adalah jalan hidup, mulai dari ibadah dan daulah pun Islam mengaturnya dengan komprehensif. Islam tak mengenal fahsluddin ’anil hayah (memisahkan agama dari kehidupan). Tapi, Islam adalah pijakan jalan yang menuntun manusia menuju ke haribaan Allah lewat keseluruhan ibadah (mahdhah, tauhid, muamalah, akhlak, siyasah dan daulah). Itulah sejuta eloknya Islam yang membedakan dengan agama lainnya.

Syahdan, dahulu kala, Rasulullah saw. Ketika memulai dakwahnya di Makkah, dihinggapi ribuan cobaan dan juga tawaran jabatan, tahta, wanita, dan kekayaan yang melimpah oleh pembesar kafir Quraisy. Tapi beliau terang-terangan menolaknya. Ia kukuh dalam dakwahnya. Tapi... yang elok adalah beliau tak menjauh dari kaum jahiliah itu, ia tetap mendakwahinya memerangi pemikiran kufurnya (ash shiraul fikr/ghazwul fikr). Itulah jalan sunyi sang Nabi.

Jadi ... baginda rasulullah saw. Tak pernah bersembunyi diri... karena hakikat jalan sunyi adalah tak masuk dalam lingkup kekufuran tapi ia mendakwahi kekufuran itu dari luar sistem jahiliah. Inilah jalan sunyi yang dituntunkan Rasulullah saw.

Maka selusurilah jalan sunyi ini... jalan sunyi bukan menyendiri dan menyembunyikan diri dalam Goa ataupun di dalam Masjid belaka, tapi ia ada di mana-mana (di setiap sendi napas kehidupannya) di masyarakat atau pun di tataran bernegara.

Jalan sunyi ini, bukan seperti jalannya para SUFI (hanya asyik berzikir), bukan seperti jalan pendeta Nashara... Jalan sunyi adalah kala kita berjuang dengan sepenuh tenaga untuk memerjuangkan Islam kembali seperti jaman kedatangan dan kejayaan Islam nan menjulang dahulu kala.

Jalan sunyi tak mudah...

Ada banyak marabahaya dan badai nan menghadang

Hanya orang-orang terpilihlah yang siap berjuang siang dan malam

Untuk memperjuangkan risalah Islam

Sudikah engkau menyusuri jalan sunyi ini sahabatku...

Ataukah engkau masih asyik dalam dunia buaian yang fana?

Hidup adalah pilihan...

Menjadi pecundang ataupun pemenang

Di alam keabadianlah sang pemenang kan terpampang dengan kejelasan

Jalan sunyilah nan kita pilih....

Ijinkan daku bersyair, boleh.....?

Tiada kemuliaaan tanpa dinaungi dengan cahaya Islam

kemilau Islam takkan sempurna tanpa syariat

Takkan tegak syariat tanpa sebuah negara yang memayunginya

Hanya negara Khilafah saja semua itu kan terwujud...”

”....Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku.

(tetapi) nanti akan ada banyak khalifah...”

HR Muslim

Allaahu Akbar!!!

YogyaMu, 1 Juli 2008 17.45

Sahabatmufillah....

Apu’ El Indragiry

[Penyair Tinggal di Yogya]

Baarakallaahu Laka....

 

Baarakallaahu Laka

Degup-degup Jiwa Menanti Saat Bahagia

Kala Merayakan Keagungan Cinta

Alhamdulillah wa shalatu wassalamu a’la rasulillah

Amma ba’du

Semoga kita termasuk insan yang selalu membersamai kenikmatan hidup yang terberi oleh ilahi dengan derai ucap kesyukuran yang tak kunjung putus dan padam dalam keagungan gerak lisan.

Semoga Allah memudahkan dan menguatkan jiwa kita dalam memenuhi sepenuh perintahNya dan menjauhi sejauhnya jauh segenap pantangan dan laranganNya.

Senandung salam dan shalawat semogalah selalu tercurah teruntuk sang Ushwah Hasanah, Rasulullah saw. Juga teruntuk kerabat, sahabat, dan umatnya...hingga akhir jaman menyapa.

Iringi penantian dengan sutera kesucian

Pernikahan adakah ikatan agung, tempat di mana dua serakan jiwa terpadukanlah dalam ikatan suci, mitsaqan ghaliza (perjanjian berat). Inilah sebentuk resonansi fitrah manusia dalam meneruskan garis keturunanya (gharizah al baqa’).

Menanti saat-saat bahagia dengan degupan indah. Begitulah ungkapan jiwa kala proses ta’aruf (perkenalan) dan khitbah (pinangan) nan sesuai syar’i telah usai, di antara dua insan yang akan mengikat seikat janji di bawah naungan ridha ilahi.

Kala penantian sumpah janji sehidup semati (akad nikah), maka jiwa pun dikehendaki untuk memersiapkan dengan kesucian hati, karena pernikahan adalah ikatan suci, seyogianyalah penantiannya diringi dengan membersihkan dan meluruskan niat, karena setiap amalan bisa beroleh baraakah pabila niatnya lillah (karena Allah) semata.

Merayakan Cinta dalam naungan ridha

Setelah proses akad usai, kiranyalah ada sebuah tanya bagaimana merayakan (walimah nikah). Kalulah harus dirayakan, adakah agama menuntunkan aturan?

Ya! Islam adalah aturan yang sempurna, kedetailannya tak diragukan lagi, karena Islam adalah aturan hidup nan menyeluruh, meliputi segenap sendi kehidupan. Pun terlingkup dalam merayakan keagungan cinta (syukuran nikah).

a. Jika mampu pihak yang berhajat dapat merayakannya dengan menyembelih seekor kambing atau lebih.

Dari Anas ra. Berkata,”Belum pernah aku melihat Rasul saw. Merayakan pernikahannya dengan salah satu istrinya seperti perayaan (walimah) Zainab. Beliau menyembelih seekor kambing.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

b. Jika tidak mampu, maka walimah dapat berupa makanan ringan apa pun, meski tidak terdapat daging,

Dari Anas ra. Berkata,” Nabi Saw. Bermukim di antara Khaibar dab Madinah selama tiga hari di mana beliau mempersiapkan dirinya menikah dengan Safiyyah. Aku mengundang kaum Muslimin untuk menghadiri walimahnya, sedangkan di sana tidak terdapat sepotong roti dan sepotong daging pun. Di sana tidak ada apa-apa, kecuali dihamparkannya tikar dari kulit, lalu disuguhkan hidangan kurman, keju dan minyak samin di atasnya, sehingga manusia pun menjadi kenyang.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

c. Jangan hanya mengundang kaum kaya saja, tapi kaum miskin atau dhuafa juga diundang untuk memeriahkan.

“Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya tanpa mengundang orang-orang miskin,...”(HR. Muslim dan Baihaqi)

Ada hal-hal yang bisa menjadi pijakan dan harus dijagai kala syukuran nikah itu dilangsungkan:

  1. Larangan untuk berikhtilath. Pada dasarnya ikhtilath (campurbaur antara laki-laki dan wanita) adalah terhukumi haram, dan dalil-dalilnya sudah bertebaran saking banyaknya. Karena kehidupan pria dan wanita Muslim pada jaman Rasulullah saw dan para sahabat mencontohkan seperti itu, yakni terpisah (infishal). Sedang ikhtilath itu hanya diperbolehkan untuk keperluan yang telah dibenarkan oleh syariat yang dinyatakan oleh nash baik dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasul-Nya, seperti jual beli dan sebagainya.

Dan tidak ada satupun nash yang memperbolehkan kebolehan ikhtilath antara laki-laki dan wanita di aula atau pun gedung kala syukuran (pernikahan).

Ikhtilath antara pria dan wanita dalam pesta perkawinan hukumnya haram mutlak. Karena kehidupan wanita dan pria adalah terpisah.

Oleh karena itu, keberadaan kaum laki-laki dan wanita di aula pesta (perkawinan) tanpa adanya pemisahan atau dengan kata lain dalam ruangan yang sama bukan dua aula, hukumnya jelas haram. Jika aurat wanita dipertontonkan sebagaimana lazimnya terjadi dalam kondisi masyarakat kini, maka keharamannya jauh lebih keras lagi.

  1. Haram hukumnya mempelai pria dan wanita bersanding (duduk di kursi pelaminan) atau menjadi tontonan banyak orang dengan dikelilingi kaum wanita baik mahram atau pun bukan, apalagi jika aurat mereka dipertontonkan. Jadi hukum menyandingkan mempelai pria dan wanita dalam pelaminan adalah haram,

” Tempat pria dan wanita terpisah oleh tirai memutih setinggi pundak

Tidak ada kursi pelaminan di altar panggung seperti acara perkawinan pada umumnya. Halaman rumah pun sudah terhampari karpet merah. Para undangan dengan khidmat duduk di posisi masing-masing. Barisan ikhwan di sebelah kanan sedang akhwat di sebelah kiri.” (lihat Mohammad Fatih Indragiry, Draf novel Pelangi-Pelangi Bidadari, hal 95-96)

  1. Jika tetap satu ruang atau satu gedung, maka wajib bagi shahibul hajat (tuan rumah) untuk memisahkan barisan pria dan wanita dengan tirai (hijab), hingga pandangan antara dua barisan ini tertutupi.

  1. Musik (selingan) harus islami (nasyid) kala jeda. Tidak boleh mengandung unsur syahwat atau yang nyerempet syair-syair porno, musik adat dan sebagainya.

Diutamakan (afdhaliyyah) bacaan murattal AlQur’an agar acara walimah nikah dinaungi barakah. Dalam hal ini ada beberapa kalangan ulama yang mengharamkan musik, tapi ada juga yang memubahkan (membolehkan). Dan hukum masalah musik dalam kekaitan ini adalah terhukumi dalam masalah furuiyyah (cabang) bukan hukum ushul (pokok/dasar) dalam agama. Tergantung person atau pribadi masing-masing, mana dalil rajih (kuat) yang diikuti dan diadopsi (tabanni). Lihat Abdurrahman Al Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, GIP, 1991).

Penulis pribadi, lebih cenderung memubahkan (membolehkan) dengan syarat-syarat tertentu (konteks isi lagunya syar’i atau nasyid kalau konteks dalam musik islami kekinian). Rujukan penulis dalam hal ini adalah, kaidah syara’,

Al ashlu fiil asyai ibaahatu maa lam yarid daliilu at tahriimi...

Hukum asal segala sesuatu adalah mubah (boleh dipakai dan dimanfaatkan) kecuali, bila ada dalil yang mengharamkannya.”

Dalil yang membolehkan nyanyian kala walimah nikah,

Dari Aisyah ra.

Katanya, ”Aku pernah mengawinkan seorang wanita dengan seorang laki-laki dari kalangan Anshar, maka Nabi saw. Mensabda,

Hai Aisyah, tidak adakah padamu hiburan (nyanyian) karena sesungguhnya orang-orang Anshar senang dengan hiburan (nyanyian).” (Hr. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Kebolehan menggunakan nyanyian (musik) tentulah dengan syarat-syarat tertentu tersebut di atas, yakni yang sesuai dan tetap dalam koridor syariat.

Agar Cinta itu berbarakah

Dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada baginya mereka pilihan (yang lain).” (Al Ahzab 36)

Inilah pola sikap (nafsiyyah) seorang Mukmin dan Mukminat,

Hai orang-orang yang beriman. Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)..” (Al Baqarah 208)

Akhirnya marilah kita selalu memohon cahaya taufik dan pelukan hidayahNya. Pun dalam keadaan apa pun, semogalah kita selalu taat dan memenuhi tuntunanNya dalam naungan Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Tak mudah menjadi Muslim kaffah dan hamlud da’wah (pengemban dakwah). Inilah ujian berat yang wajib dilalui, pun meski berat membadai dirasa di hati.

Rasulullah saw. Mensabda,

Kelak akan datang suatu masa kepada manusia, di mana orang-orang yang bersabar (tetap berpegang teguh) dalam agamanya di tengah-tengah mereka, bagaikan orang yang memegang bara api.”

Harapannya... dengan proses nikah yang suci, syukuran nikah yang diberkahi, kelak.... kan terlahirlah mujahid-mujahidah yang memberi bobot ke bumi dan kolong langit dengan kalimah indah, Laa ilaaha illa Allah wa muhammadarrasulullah.

Barakallahu laka..

Amboi, bahagianya merayakan keagungan cinta!”

Maka...

Terbarakahilah perayaan cinta suci!

Terentanglah jemari-jemari malaikat menyambuti pinta hamba

Bergemuruhlah para penghuni langit menyambuti doa

Terciumilah semerbak mewangi aroma bunga surga

Tertetesilah kecupan barakahNya untuk sepasang cinta

Ah, usailah sudah puasa panjang sang syahwat

Kini, terkunnyahlah sebijih kurma cinta ’tuk berbuka nan melezat

Ucapkanlah selamat ’tuk insan nan mencicipi legitnya cinta nan menikmat

Subhanallah! Sungguh indah perayaan cinta suci itu.

Subhanallah!! Sungguh-sungguh indah merayakan cinta

Dalam naungan dan pelukan ridha Rabb-Nya.

Semoga baraakah Allah selalu mengemilau untuk sepasang cintah!”

Amin... amin... amin yaa rabbal ’alamiin.

Wallaahu a’lam bi ash shawaab,

Pelangi YogyaMu, 1 Juli 2008 10.21

Sahabatmufillah nan terfakir ilmu,

Apu’ El Indragiry

Sebagai rujukan artikel,

  1. Hizbut tahrir, Nashrah tentang ‘walimah nikah’,

2. Imam Malik Ibn Anas, Kitab Al Muwatta’ (Kumpulan hadis dan Hukum), hal 293

  1. Abdurrahman Al Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, GIP, 1991.

  2. Abdullah Nasih Ulwan, Etika Meminang dan Walimah Menurut Islam, Cahaya Hikmah,2003

  3. Mohammad Fatih Indragiry, Draf novel Pelangi-Pelangi Bidadari

Agar Jalan Kembali Membenderang

Jiwa kadang terapuh

jiwa kadang meronta

Jiwa kadang tergoda

bilamana rindu tertuju kepadaNya

Bilamana cinta merayapi dada teruntukNya

masih ada jalan kembali

terkarenakan manusia bukanlah makhluk suci

tapi dari kesalahanlah ia belajar

kembali memeluk kecupan ridha Rabbi

Di Bening Hati Bidadari

Hangatnya cahaya mentari pagi masih mengilat-ngilat dari ufuk timur dengan warna keperakan. Tebaran megapesona gunung Merapi terlihat berdiri dengan anggun dan kukuh di ujung utara Yogya. Tratak acara syukuran pernikahan Ihsan SH, dengan dr. Muthmainah barusan dibongkar. Rumah mungil di komplek Samirono Baru di depan kampus UNY itu masih serasa lenggang.

Di ruang tamu yang sederhana nampak Ihsan dan Pak Abdurrahman sedang berbincang hangat. Sehangat seduhan secangkir cokelat.

”Menurutmu, kenaikan BBM beberapa hari yang lalu melanggar hukum tidak, Nak?”tanya Pak Abdurrahman.

Ihsan, pengacara beken di bawah payung ’Tim Pengacara Muslim’ menjawab,”Saya harus jawab melalui pandangan hukum atau sesuai syariat Islam, Pak?” dengan hati-hati Ihsan balik bertanya.

”Lho, Islam mengatur masalah BBM juga, ya? Menurut Islam sajalah kalau begitu.”

Ihsan pun menganguk.

”Terlalu sempurna Islam itu, Pak. Tak hanya BBM saja, tapi pendidikan, kesehatan, dan keamanan pun Islam pun mengaturnya. Karena memang itulah kewajiban penguasa sebuah negeri untuk melayani hak-hak rakyatnya. Dan penguasa ’diharamkam’ untuk memerjualbelikan hutan, minyak, dan air. Itulah mutiara hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud.”

Ada seraut wajah terkejut yang nampak di mata Pak Abdurrahman, ketika mendengar penjelasan dari Ihsan, menantunya itu.

”Berarti selama ini pemerintah kita telah menzalimi rakyatnya, ya, Nak?”

”Benar sekali, Pak. Tak hanya zalim, tapi zalim sezalimnya zalim. Alias zalim sekali. Program BLT hanyalah tipuan dari pemerintah agar menutupi borok-borok kebijakan yang tidak populisnya. Kalau Bapak semisal diberi dua pilihan mendapat dana BLT namun BBM harganya melangit, atau tidak dapat BLT tapi BBM tidak naik, Bapak kira-kira memilih yang mana?” Ihsan menjawab dengan senyum.

”Seratus persen dan ini haqq, aku pasti memilih tidak dapat dana BLT tapi harga BBM tetap terjangkau dengan saku rakyat. Lha percuma saja tho, aku dapat duit seratus ribu, lalu semua harga sembako melangit. Karena naiknya harga BBM akan berimbas ke semua harga-harga kebutuhan pokok. Apa pemerintah tidak menimbang ekses dari naiknya harga BBM, ya, Nak?”

”Itulah penguasa yang tidak melayani rakyat, inilah penguasa yang minta dilayani rakyat, inilah penguasa yang mengkhianati amanah rakyat. Kebijakannya pun disetir oleh kaum penjajah ’kafir Barat’ lewat metode penjajahan ekonomi, politik, sosial dan lain-lain. Karena penguasa negeri itu sudah tidak punya kehormatan dan rasa malu di hadapan Allah SWT. Ia sesungguhnyalah telah menjual amanah ummah dengan darah rakyatnya sendiri.” jawab Ihsan.

Perbincangan pagi nampaknya kian menghangat saja. Andai khalifah Umar ibn Khaththab dan cicitnya, khalifah Umar ibn Abdul Aziz hadir di meja tamu itu, tentulah mereka akan senantiasa bahagia mendengar percakapan yang  peduli dengan jeritan ummat ini. Ah, andai saja...

”Oh ya, lalu kenapa BBM bisa melangit itu, Nak? Aku tak habis pikir dengan negeri kaya raya ini, yang begitu tak berdaya. Apa iya, karena imbas kenaikan harga minyak dunia yang melesat naik?”

”Waduh, Pak. Bapak benar sekali. Siapa yang meragukan melimpahnya kekayaan alam Nusantara ini. Bapak lihat sumur minyak di Dumai, Duri, Cepu, Cilacap, dan sumur-sumur minyak di tempat-tempat lain. Harusnya kalau minyak dunia naik, kita kaya raya kan, Pak? Belum lagi emas yang melimpah di Papua, timah di Bangka Belitung, batu bara di Kutai Kalimantan Timur. Jadi alasan kenaikan harga BBM untuk menyelamatkan dana APBN itu hanyalah muslihat licik sang penguasa. Kalaulah harga minyak dunia meroket, bukannya kita akan semakin kaya negeri kita ini, Pak?!! Karena kita juga memproduksi minyak.kita bukan importir minyak. Dan kita bukan selayak  negara miskin seperti Timor-Timur, bukan? Yang tidak mempunyai kekayaan sumber daya alam sama sekali!”

”O. Iya-ya. Baru kini aku menyadarinya. Sebabnya apa ya, Nak Ihsan? Bapak kok tidak habis pikir...”

dr. Muthmainnah datang dengan nampan berisi secangkir kopi dan  teh juga sepiring pisang goreng yang masih panas. Ia pun ikut nimbrung,

”Ayah, ini memang skenario jahat zionis Yahudi, Ayah!” lalu ia duduk di samping Ihsan, suaminya.

”Maksudmu bagaimana sih, Nduk? Aku tambah pening, Je?

”Begini Pak. Karena negeri ini sudah terjerat hutang, maka negeri itu sudah tak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan. Bisa bapak bayangkan tiap tahunnya penguasa negeri ini harus menyetor bunga utang luar negeri sebesar 90 triliun, bunga untuk pembayaran hutang ini menyedot 40 % APBN, ini baru bunga hutangnya lho, Pak. Ibarat perahu ia sudah bocor di sana-sini. Tinggal menunggu karamnya saja. Negeri ini sudah layak disebut sebagai failed state-gagal negara/negeri bangkrut-. Dalam sebuah UU Migas tahun 2001, sudah disebutkan pemerintahan ini akan dianggap  melanggar MoU dengan Bank Dunia dan IMF apabila tak menaikkan harga BBM dan menyubsidi rakyatnya. Jadi harga 6000 rupiah per liter itu bukan harga mati, harga ini akan melesat naik beberapa saat lagi. Karena patokan harga ini masih melanggar UUD migas tahun 2001. Harga  seharusnya dalam MoU itu adalah 10.000 rupiah. Nah, jika itu sudah berlaku, barulah penguasa negeri ini akan dianggap patuh dengan perjanjian itu. Sebagai perbandingan, di Venezuela harga minyak per liternya hanya 300 rupiah. Di Iran, negeri para mullah itu harga per liternya cuma 1.300 rupiah. Ketika harga minyak dunia melangit, di Iran pemerintahan di sana malah menurunkan harga BBM.”

”Kok bisa? Lalu bagaimana Yahudi bisa jadi tertuduh dalam kasus ini? Kan mereka cuma negeri kecil yang bercokol dan menjajah di Palestina?”

dr. Muthmainnah pun kembali nimbrung.

”Ya bisalah,Yah. Yahudi itu memang sangat cerdik juga terkenal licik. Dalam bukunya yang berjudul Rahasia Kecerdasan Yahudi, A Maheswara menuliskan: ”Freemansory memberikan dukungan penuh pada lembaga supranasional seperti PBB, IMF, World Bank dan lain-lain. Dalam urusan politik, bangsa Yahudi mencetuskan ideologi seperti demokrasi, nasionalisme, komunisme, sosialisme, kapitalisme. Namun, di saat yang sama mereka sendiri (Yahudi) tak memercayai dan ideologi yang mereka tuangkan ke seluruh dunia. Termasuk di negeri-negeri Islam hingga kini. Nah, Indonesia termasuk yang berada dalam cengkeraman penjajah Yahudi, Ayah! Dan di belakang semua ini ada banyak korporat-korporat asing yang bersembunyi dan ingin mencicipi bisnis eceran minyak di SPBU,” terang dr. Muthmainnah.

”O. Jadi kelak yang jualan minyak bukan hanya Pertamina saja, tho? Lalu siapa saja yang ngecer?”

          ”Iya, Ayah. Jadi nanti selain dari Pertamina, ada Shell, Exxon Mobile, Petronas, PetroCina, Caltex. Mereka akan jualan minyak juga. Bahkan kalau Ayah sekaya Abu Rizal Bakrie, Arifin Paniogoro, Sudono Salim, Ayah juga bisa buka SPBU, lho!” jawab dr. Muthmainnah dengan seloroh canda.

***

dr. Muthmainnah terhenyak.

Baru dirasakannya tiga hari menikmati mahligai suci, baru tiga hari kuncup bunga cintanya memekar ke bumi, kini sang lebah tercintah berada di balik jeruji besi.

Di hadapannya duduk dengan tegar, Ihsan, dengan baju koko putih bercelana hitam. Waktu jenguk tinggal sepuluh menit lagi. Ruang tunggu di Polda Metro Jaya, Jakarta masih ramai dengan kunjungan sanak famili bagi yang dipenjara.

”Mas... apa alasan polisi menangkapmu?”

”Entahlah, mungkin gara-gara aku membongkar kasus NAMRU, membongkar makar penguasa dalam kenaikan BBM dan lain-lain. Kini mereka tidak terima dan menfitnahku dengan menaruh beberapa kilo gram bubuk putauw dan heroin di bagasi mobil. Inilah fitnah yang tidak bisa aku terima. Ketika ada pemeriksaan di jalan Gatot Subroto, aku pun tidak bisa berkutik. Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang tega memfitnahku. Isteriku, kamu tahu hukuman apa untuk kasusku ini? Aku bisa di hukum mati, karena kesalahan yang tak pernah aku lakukan. Aku baru meyakini kini, betapa lebih keji fitnah daripada pembunuhan terhadap jiwa.”

dr. Muthmainnah menggenggam erat jemari tangan Ihsan.

”Sabar ya, Cinta! Aku memercayaimu. Aku bersama juangmu. Aku bersama tetes keringatmu dan aku senantiasa bersama dalam pesona tapak jihadmu. Karena aku senantiasa ada teruntuk membersamaimu. Mereka boleh memenjarakan ragamu di balik jeruji, tapi mereka takkan bisa memenjarakan jiwamu, semangatmu, dan perjuanganmu. Ia akan tetap terbang dengan sayap-sayap cintanya.”

Ihsan tersenyum, ”Terima kasih atas kemengertianmu, Cinta.”

dr. Muthmainnah pun menganguk dengan senyum.

”Isteriku. Kamu tidak menyesal, kan menikah denganku?”

”Tentu, Suamiku tercintah! Aku sudah tahu kelak bakal ada onak dan badai yang menyerbu mahligai cinta di antara kita.” sahutnya, ”dan aku pun kan selalu bersetia menunggu angin kebebasanmu.”

Ihsan pun menunduk haru. Lalu ia mengangkat muka. Memandangi bidadari salihahnya, bidadari bermata jelita. Bidadari di ujung rindunya. Bidadari yang selalu ia pinta dalam sujud panjangnya kala malam tiba.

“Isteriku... kenapa engkau memilihku?”

“Karena engkaulah pangeran impian jiwaku:)” canda dr. Muthmainnah, sambil merebakkan senyuman malu. Memecah susana kelabu di ruang itu.

“Apakah karena parasku?”

“Bukan.”

“Lantas?”

“Karena perjuanganmu untuk menegakkan panji kemenangan Islam. Dengan ilmu dan keahlian yang engkau miliki, engkau membela segenap kaum muslimin yang tak bersalah tanpa memandang kasta atau apakah mereka punya sesuap nasi untuk membayarmu. Engkau pun membela hak umat yang kini dizalimi penguasa, dan membongkar makar kaum kafir penjajah yang bercokol di negeri ini. Dan engkau begitu ikhlas menjalani dan membantu mereka. Karena itulah engkau menjadi mujahid impian hidupku. Jika karena paras, pastilah kan kupilih bintang film yang seganteng Nicholas Saputra, jika kupilih karena kekayaan, pastilah kupilih temanku yang dokter itu atau anaknya Abu Rizal Bakrie, pengusaha terkaya se-Asia Tenggara itu,  jika karena keturunan pastilah aku kan menikah dengan putra Kiai dari Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak yang lulusan universitas Al Azhar, Cairo!” goda dr. Muthmainnah.

“O, duhai penghuni bumi... duhai penghuni langit! Dengarlah senandung bidadariku!! Betapa tak salah kupilih engkau, duhai bidadari dunia akhiratku. Duhai permata jelita nan senantiasa memancarkan kemilau kesalihannya,” sambut Ihsan. Lalu ia melanjutkan, “apakah engkau tahu resiko menjadi isteri seorang pengemban dakwah?”

“Apa pun resikonya, aku kan selalu mencintamu sepenuh jiwaku.” dr. Muthmainnah mempererat genggaman tangannya, seolah-olah ia enggan melepaskan lagi  jemari kukuh tangan Ihsan, meskipun hanya sedetik.

“Bagaimana pabila kugugur di jalanNya? Pun bagaimana jika aku tak pernah lagi menatapi pesona rembulan teduhmu, Cintaku?”

Dengan linangmata ikhlas ia memeluk sang suami tercintah,

“Suamiku tercintah... engkau bukanlah milikku sepenuhnya. Engkau hanyalah titipanNya. Engkaulah anugerahNya nan terindah yang Dia peruntukkan khusus untukku. Engkaulah bingkisan terindahNya yang dipersembahkan teruntukku, dan aku pun terrela pabila Allah menjemputmu, karena aku tahu Dia sayang kepadamu, karena Dia begitu mencintamu. Oh, duhai Cintaku, aku teringat dengan puisi jiwanya, Dante Alighieri, penyair masyhur dari Italia dalam Divina Commedia (Div-C). Berkenankah engkau mendengarkannya, Kekasihjiwaku, Peneduh segenap rinduku?”

“Tentu cintah! Dengan sepenuh jiwaku aku akan mendengarkan bait-bait cinta dan selaksa rindu dari lisan mungilmu.”

Tu lascerai ogne cosa diletta piu caramente... artinya ”Engkau akan meninggalkan apa saja yang kamu kagumi...”

“Ah! sungguh puisi yang indah, dari lisan indah bidadari di ujung rinduku. Puisi nan menyimpan sejuta hikmah di balik kata indah!!”

“Yee... Masih ada lanjutannya, Sayang...”

“Oh ya!?”

Tu proverai si come sa di sale lo pane altrui... maksudnya ”Engkau kan merasakan betapa asin dan pahitnya roti orang.”

”Ah. Ternyata ada juga dokter yang puitik. Jarang-jarang ada dokter ahli kandungan yang merangkap jadi pujangga,” canda Ihsan.

dr. Muthmainnah hanya bisa tersipu malu, karena mendapat pujapuji kata dari sang suami tercinta.

Pak Abdurrahman datang mendekat.

”Nduk... KA Argo Lawu Jakarta-Yogya berangkat setengah jam lagi.” ia mengingatkan. Waktu kunjung juga sudah habis.

”Jika ada pertemuan pastilah ada perpisahan.” Seperti awan yang berarak di cakrawala, lalu ia kan menghilang di balik kaki langit. Itulah hukum alam yang fana, yang tidak bisa ditolak manusia. Dan setiap yang fana pastilah akan binasa.

Sang pangeran jiwa pun mengecup kening isteri tersayang. Diiringi degup-degup penantian rindu.

Ketika sang bidadari jelita menghilang dari bayangan mata.

“Duhai Rabbi.. akankah ia kembali mengisi relung-relung hatiku lagi? Kuserahkan jiwanya untukMu. Pun jika tak kutemui di dunia ku kan bercinta dan menantikannya di Taman AbadiMu!”

Derai-derai gulir airmata iringi pelepasan sang kekasihjiwa

***

Di sebuah pekuburan di Terban, dekat dengan Mirota Kampus Swalayan, UGM. Di atas gundukan pusara yang masih merah. Pepohonan bunga Kamboja berderak-derak diterpa semilir angin hangat. Dedaunan pun meliuk-liuk meluruh ke bumi. Sesosok muslimah berjilbab krem, berkerudung putih dan dengan masih mengenakan pakaian dinas dokternya yang berwarna putih terang berdiri dengan membawa setanggi bunga.

Semilir doa ia embuskan,

”Duhai jiwa nan dirindui surga...

Duhai mujahid terpujaku

Engkau telah kembali kepelukanNya

Engkau telah menunaikan baktimu ke bumi jihad

Aku bangga menjadi bidadari dunia akhiratmu

Apatah engkau kini menantiku di surga? Semoga...

Sesungguhnya, bidadarimu ini kini

Sedang dirundung badai dendam rindu”

Tanpa diketahui oleh muslimah itu, sepasang mata licik memandanginya dari balik kaca mobil Toyota Yaris. Dengan lencana bertuliskan CIA yang tergeletak di dahsboard mobilnya. Di jok sofa mobilnya bertumpuk-tumpuk buku dari Rand Corporation semisal, Moslem Word After 9/11, Moderat and Radical, US Strategies, Building Moslem Moderat, Civic Democratic Islam. Lalu mobil itu menderum dan melesat pergi dengan seringai kemenangan licik.

***

Malamnya. Sang Al Musthafa, Nabi Saw. mendatangi sang bidadari...

“Mujahid terpujamu telah termandikan jemari para malaikat. Ia sedang menunggumu di Taman Awan Kenikmatan Abadi. Kecuplah pesona syahidnya dengan keikhlasan jiwa.”

Sang bidadari lisannya terkatup terdiam. Hanya mata jelitanya yang berbicara, dengan  menitikkan salju-salju putih.

”Kenapa engkau menangis? Apakah engkau menyesal mempunyai suami yang syahid di jalanNya? Aduhai bidadari dunia, tahukah engkau... bidadari surga kini sedang menatapmu dengan pesona cemburu.”

“Aduhai Al Mustafa, aku menangis karena terpanah busur bahagia. Aku begitu merindui pertemuan dengannya, di taman perjumpaan abadiah rindu.”

Al Mustafa, Nabi Saw. pun berlalu dari hadapannya. Hanya terdengar semilir sabda,

“Berbahagialah keluarga muda, nan beraroma wangi surga. Barakah! Barakah!barakah!”

Senja pun mulai merayap turun ke bumiNya.

Guncangan dan celoteh Zainab, membangunkan dr. Muthmainnah dari jenak lelap. Mushaf Alquran masih terbuka di surah ar rahman. Sajadah merahnya masih hangat dan basah oleh guliran airmata.

”Bunda menangis ya?” celoteh Zainab,”Bunda ingat Abi kah? Abi ganteng sekali ya, Bun...” lanjutnya sembari memandang foto Ihsan yang sedang tersenyum memeluk dr. Muthmainnah dengan mesra. Foto itu dipajang di dinding kamar. Foto sepenggal kenangan yang masih tersisa, kala mereka menjadi pengantin baru, dulu.

”Maafkan bunda, Sayang! Bunda tadi tertidur sejenak. Abi kini sudah bahagia di atas sana, Sayang! Ia sedang menanti ’kedatangan’ kita...” butir-butir perak mengilat kembali jatuh dari pelupuk mata dr. Muthmainnah.

”Apa kita akan bertemu Abi, Bunda?”

dr. Muthmainnah menganguk dengan senyum.

”Tentu.”

Lalu ia mengecup kening Zainab dua kali dengan selembut kasih.

Berjuanglah, Nak! Menjadilah mujahidah! Menjadilah bidadari salihah! Karena engkau adalah titisan seorang pejuang Islam, bisik dr. Muthmainnah.[]

Lakalhamdu... atas terselesaikannya cerpen ini.

Yogya nan menggerimismata, 21 Juni 2008 06.53

=================================================

Keterangan

Al Musthafa: insan terpilih

Freemansory: Kelompok bentukan zionis Yahudi ini lebih menegaskan nilai humanis (kemanusiaan) daripada nilai religius (agama). Freemansory tak pernah memandang apa pun agama dari para anggotanya. Mustafa Kemal Attartuk, sang peruntuh ke-Khilafahan di Turki (laknatullah alaika) juga termasuk anggota kelompok ini. Bahkan bisa jadi Gus, Kiai, cendikiawan, dan sastrawan terlibat dalam kelompok ini. Entah mereka menyadarinya atau tidak. Allaahu a’lam..

Je: (ungkapan khas di Yogya)

NAMRU: Balai kajian penelitian obat, USA di Indonesia. Baru-baru ini terungkap misi gandanya. Badan intelijen USA army, berkedok tempat penelitian obat penyakit di Indonesia. Keberadaanya tak tersentuh sedikit pun oleh orang awam selama ini. Dan keberadaanya ditutup-tutupi oleh ’penguasa anteknya’ USA.

Nduk: Nak (bhs. Jawa. panggilan khas untuk anak putri)

Rand Corporation: adalah organisasi independen bergiat di ranah penelitian. Menganalis, mencari solusi masalah baik masalah sektor umum dan khusus. Ia berafiliasi dengan Angkatan udara USA.

UNY: Universitas Negeri Yogyakarta (dh/IKIP)

USA: (United State of America) Amerika Serikat.

Cerpen ini diadaptasi dari puisi,

”Senja Di Bening Hati Bidadari”

Blog-puisi di www.mohammadfatih.multiply.com

Terinspirasi dengan sejuta pesona kisah asy syahid, Hanzalah

Juga, puisi ”Di Bening Hati Bidadari”

Draf antologi puisiku, ”Puisi-puisi Cinta”

Cerpen ini khusus kuukir, teruntuk  ...

My brother, Munarman, SH

[Takkan Melayu hilang di bumi

dengan Daulah Khilafah]

Dan untuk....

Engkau .. Sang Pejuang Islam!

“Jangan gentar tuk pekikkan kebenaran

pun itu pahit melangit menggigit.”

Sahabatmufillah, di hujung senantiasa rindumu

Apu' El Indragiry

[Pujangga Khilafah & Novelis ideologis]

Revisi; Cerpen Bunga Sakura Di Parijs van Java

Aku ingin menjadi cahaya bidadari seutuhmu, dalam semua keterbatasanku. Menjadilah imam bagiku, menjadi pelita ilmu bagiku. Menjadi peneduh dengan napas-napas dakwahmu. Mandikanlah bunga sakura ini dengan hangatnya cahaya surya kasihmu.

Kuingat ucapan Asma, kala taaruf di lantai empat masjid Al Furqon Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung beberapa hari yang lalu. Hati siapa nan tak tersentuh! Terluluh! Mendengar sebuah kidung pinta sesosok bidadari.

Aku bukanlah nyala terang yang sempurna. Aku hanyalah sebongkah mentari yang dulu sempat retak. Yang kini mencoba untuk merakit kembali serpihannya dari kekelaman hidup untuk mencahayai bumi kembali dengan cahaya sempurna. Berbagi kebahagian, saling melengkapi adalah misiku dalam menyempurna separuh agamaku, itu jawaban singkatku kala itu.

Pagi ini, aku akan menjemput calon isteriku itu di Bandara Husein Sastranegara. Ia akan datang bersama Ayah dan Ibunya dari Tokyo. Mereka akan berganti pesawat menuju Bandung setelah tiba di Jakarta.

Aku melihat jam tanganku.

Jarum jam menampilkan 10.30. Sudah terlambat setengah jam. Padahal di board arrival-terminal kedatangan- bahwa pesawat Garuda dari Jakarta seharusnya tiba tepat jam 10.00. Cuaca memang agak memburuk akhir-akhir ini. Anomali cuaca yang tidak bisa diprediksi oleh tangan-tangan ahli manusia sekalipun.

Miftah, kerabat Asma serta neneknya nampak tak bisa lagi menutupi raut gelisahnya. Mereka datang dengan mobil keluarga untuk menjemput kerabat, putra dan cucu kesayangannya. Sedang aku, bersama Abah dan Emakku yang baru tiba dari Indragiri Hilir kemarin sore, juga tak menampik dengan awan kecemasan, menanti kedatangan calon menantu dan besannya. Jangan tanya lagi dengan suasana hatiku kini.

***

Bumi di ambang jendela senja. Rona awan kemerahan menghinggapi semesta. Saat ujian pendadaran skripsiku akan tiba dua minggu lagi. Aku kini sedang gigih memersiapkan diri. Ini perang hidup dan mati dalam studiku. Kalah di hadapan dosen penguji, alamat bakal mengulang satu semester lagi. Buang-buang waktu dan duit! Apalagi tiap semester biaya kuliah kian melangit.

“Fan, ada yang perlu aku bincangkan,“ Indra, seniorku di KALAM, UPI tiba-tiba saja muncul, lalu duduk di sampingku. Indra memang sahabatku. Ia pula yang menuntunku dalam meraup ilmu Islam dan beroleh jalan cahaya seperti sekarang. Kami memang berasal dari provinsi yang sama, Riau. Ia berasal dari kabupaten Indragiri Hulu, sedang aku dari Indragiri Hilir.

Aku sedang asyik menatap monitor komputer.

“Ya, ada apa? Serius sekali kelihatannya?“ jawabku sambil memandangi parasnya.

“Ada muslimah dari negeri Sakura. Ia ingin menikah dengan orang Indonesia. Ia baru berjilbab. Insya Allah ia salihah. Miftah, kerabat dekatnya yang menawarkan. Dia sedang giat memelajari Islam. Sudah satu bulan ia di Bandung. Kini ia bermukim di Daarut Tauhid.“ Kampus kami memang hanya berjarak dua ratusan meter arah ke utara dari pesantrennya Aa’ Gym di Gegerkalong.

“Kenapa tidak kamu saja?“ timpalku sembari menggodanya.

Indra menjitak kepalaku, “Aku masih belum sesiap dirimu. Banyak tanggungan. Apalagi adikku masih butuh kiriman biaya untuk sekolah. Aku cuma editor lepas di penerbit. Kamu kan sudah punya banyak usaha di sini. Apalagi yang kamu tunggu? Kesempatan tidak datang dua kali, Boy!“

Siapa pun di kampus tahu, sosok Irfan dulu. Irfan si Raja Dugem. Hobinya nongkrong dan foya-foya di kafe dekat pusat perbelanjaan Cihampelas tiap senja. Boy!! Kami selalu memakai nama kental itu jika bersenda gurau. Itu panggilan khas anak-anak Melayu.

Tak lama paras Indra raib.

Ia datang kembali dengan menenteng selembar map putih.

“Ini biodatanya. Jika kamu tertarik, kita kan proses lebih lanjut. Jika aku jadi dirimu, wah aku pasti tancap gas...“

“Huu... maunya!“ jawabku. Tapi tetap kuterima juga dengan degup-degup hati.

“Selamat berenung dan berikhtiar!“ ia menepuk pundakku, lalu beran