Biarkan Kucemburu! Agar Kukenakan Selendang CintaMu
|
Biarkan Kucemburu! Agar kukenakan selendang cintaMu Biarlah api cemburu itu terhadir Agar kubermuhasabah dari setitik bulir nadir
Assalamu ‘alaikum wr.wb. Salam memberkah langit dan salam terindah Teruntuk sahabatkufillah, mujahidah shalihah Di Bumi Allah, Lampung nan elok memesonai jiwa Bibir itu selalu bergetar, kala sepenggal nama sangKekasih dilafalkan. Hatinya pun bergeletar jua kala keagunganNya dihamparkan di hadapannya, lewat serenada merdu ayat Kauli maupun pesona kuas ayat KauniNya bersimfoni nan menyapa lembut hati.
Alhamdulillah! itulah sebaik-baik riak ucapan hamba, dan gerak sosok hamlud dakwah. Itulah awalan ungkapan terindah, permulaan kata yang penuh berkah. Karena hanya Dia yang terlayak mengenakan kata keagungan dan segala pujiucap dari makluk ciptaNya. Allaahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali wa ashabihi muhammad. Sesiapa saja yang melafalkan ini sekali, maka Allah Azza wa Jalla kan membalasnya dengan kelipatan sepuluh kebajikan.
Ukhtifillah, Sesungguhnyalah ada beban memberat menggelayuti dada. Karena seharusnya kala menuliskan artikel-artikel, apu’ biasanya harus didampingi beberapa kitab. Afwan, karena kitab dan buku- buku apu’ sudah dikepak dan sudah teronggok di kos baru, sedang apu kala membuat artikel ini masih berdiam di kos lama. Tapi, jika apu’ menundainya, apu’ takut lupa.. terlupa akan seikat janji. Dengan keterbatasan maraji’ (rujukan) serta kesempatan masa yang mepet karena akan mudik (ke Riau) inilah, apu cobai untuk membuat artikel tentang “Muhasabah Diri”. Semoga untaian-untain bait kalimat yang sikit ini bisa bermanfaat. Semoga katanya bak manik-manik yang teruntai pesan hikmah mengiringinya.
“Api cemburu ada Karena ada sumbu cinta nan menyala” -Apu’ El Indragiry
Api Cemburu itu...
Cemburu? Apa hubungannya dengan muhasabah diri, ya? Seraut tanya mungkin hinggap di benak kita. Relevankah cemburu dengan kekaitan muhasabah?
Cemburu... mungkin kata ini sudah banyak terukir di syair lagu, pun begitu di puisi-puisi kalbu para pujangga dunia nan termasyhur.
Cemburu masih terlingkup dalam makna cinta, kata Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam salah satu kitab fenomenalnya, Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu (Pssst, ini salah satu kitab favorit apu’ loh! Rahasiakan, ya! he-he-he). Cemburu dan cinta takkan terpisah kata dan maknanya.
Orang bisa saling bunuh hanya karena satu kata ini, CEMBURU. Masih tak lekang dari ingatan kita alkisah moyang kita, Habil dan Qabil??? Terkarenakan cemburu buta, Qabil membunuh saudara sedarahnya, Habil. Karena apa? CINTA.. jadi cemburu... cinta... cinta dan cemburu selalu kait mengait satu sama lain. Amboi... dahsyattt nian!
Sebagai hamlud dakwah tentunyalah kita mempunyai definisi makna tersendiri. Cemburu dan cinta adalah keuniversalan kata yang masih mempunyai beberapa interpretasi makna nan mendalam (‘amiq), tergantung manusianyalah bagaimana ia menyikapinya secara bijak bestari.
Cemburu karenaMu Menarik untuk ditelaah. Kata ini (cemburu) karena Allah swt. Dalam ihwal bagaimanakah cemburu ini terkait dengan Allah Ta’ala?
Cemburu perdana, [Melihat Syariat (hukum-hukum Allah dilupai manusia] “Cinta itu pasti cemburu.” Api cemburu menyala karena letupan cinta. Nah! Seorang pengemban dakwah pastilah cemburu melihat manusia hidup dengan pongahnya dengan hukum-hukum jahil (kufur). Bagaimana ia tidak cemburu melihat hukum AlQuran dan as Sunnah tak lagi digunakan manusia?!
Kala badai cemburu telah membuncah-buncah di dadanya, maka hatinya pun tergerak untuk mengejawantahkan segenap energi cinta kepadaNya. Lalu ia pun bergerak teruntuk mewujudkan hukum-hukumNya kembali agar mencahayai alam semesta, lalu bias kemilaunya melenyapkan hukum kufur buatan tangan nista manusia (wahdy hukmi).
Jika manusia belum tergerak untuk memerjuangankan hukumnya ini, maka ucapan cinta kepadaNya (syahadatain) masihlah cinta sebatas pemanis di bibir belaka. Cinta semu! Palsu! Menipu!
Bagaimana mungkin ia berkata cinta kepada Sang Pencipta Jiwa, namun kala hukumNya tersia, hatinya pun tak terbetik sedikitpun jua teruntuk menegakkan kembali hukum-hukumNya.
Cemburu kedua [Kala kekasih kekasihNya (khalilullah, Muhammad saw.) terhina risalah dan namanya.]
Inilah badai ujian cemburu kedua, melihat sang kekasih jiwa (yang kita nantikan seucap kata syafaatnya di Hari Akhir) ia terhina oleh manusia, Wilders, Ahmadiyyah dan sebagainya. Lagi-lagi hatinya sedikitpun tak terbetik untuk membelai nama harumnya. Jangankan membela, malahan ia dukung para penghina Nabinya... Sungguh polahtingkah nan aneh!
Kala hati terikat simpul cinta Nabi, maka ia bersegera mengikuti jejak cinta sang Nabi. Ia begitu tersulut api cemburu kala risalah dan nama sang Nabi terhina. Ia korbankan apa saja yang ada di dirinya untuk membela sang kekasih tercintah. Jika sang kekasih terhina, ia tergugu diam saja, lalu adakah sekelumit cinta yang masih menyisa di palung jiwa Muslimnya? Tanyailah KENAPA di lubuk jiwanya.
Aduhai.. Al Musthafa (insan terpilih, Muhammad saw.) Lihatlah umatmu kini... mereka terbelit badai fatamorgana dunia yang fana, menjual-jual risalah agungmu demi sebetik dunia yang kan binasa. Lihatlah kini !! demi segepok uang dari Yahudi ia rela menjual agamanya...
Cemburu ketiga, [Melihat kemaksiatan terhampar di hadapanya]
“Mendiamkan kemungkaran sama dengan kemungkaran itu sendiri” -Ibnu Hazm El Andalusy
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla begitu dirundung badai cemburu kepada manusia. Karena apa?
Allah akan cemburu pabila ia melihat manusia membiarkan kemaksiatan, kezaliman, kelaliman di alam raya bersimaharajalela.
Ia cemburu kepada Ulama’ (jamak dari isim, ‘alim/orang yang paham, tahu, mengerti), Kiai, Ustadz, Ustadzah, Muballigh. Apabila ia mendiamkan kemungkaran dan kezaliman yang terhidang di meja dakwahnya. Ia terbungkam seribu bahasa entah dengan selaksa alasan apa pun, apakakah itu karena.. ini belum waktunya dakwah seperti itu, ini bukan kewenangan kita, atau ada lagi yang berujar... inikan tergantung orangnya kalau orangnya baik pasti baiklah sistemnya. Ia selalu mencari sejuta alasan. Lalu, karena dakwah memerbaiki diri, ia lupa menegakkan nahi munkar.
Maka Allah cemburu kepada orang yang tak cemburu melihat kemaksiatan menjamur.
Maka! Bakarlah cemburumu kala melihat orang korupsi, berzina, judi, minum khamar, yang masih istiqomah memakai hukum kufur (demokrasi, nasionalisme, pluralisme, fanatisme kesukuan dan sebagainya).
Cemburuilah... jika melihat ada sebagian ulama su’ (buruk) yang menentang syariat Islam dan Khilafah Islamiyah kembali tegak di alam semesta.
Biarlah cinta yang melukiskan keindahannya! Dengarlah puisinya sang maestro ini, “Aku ragu akan adanya diriku Tapi cinta menyatakan bahwa Aku ada!” -Muhammad Iqbal
Tak lengkap dan kurang sedap rasanya membincangkan cemburu tanpa cinta. Cinta! Lagi-lagi kata ini masih terlalu lebar maknanya. Baiklah, apu’ hanya akan membincangkannya secara spesifik Cinta kepada Allah semata saja ya...
”Takkan pernah ada kekasih yang tak dicari kekasihnya Jika kilat cinta telah menyambar sekeping hati, Maka, ketahuilah bahwa ada nyala cinta di kepingan hati yang lain
Jika CINTA Allah telah tumbuh di hatimu, Tak diragukan lagi Allah pasti kan menaruh sejuta CINTA kepadamu
Begitulah dahsyatnya pesona cinta. Jika cinta belum menyala bagaimana ada badai rasa cemburu di relung kalbumu akan terhadir?!
Isyarat-Isyarat matasukma cinta, 1. Banyak mengingat nama yang dicintai 2. Tunduk kepada perintah yang dicintai 3. Memerhatikan perkataan yang dicintai 4. Mencintai apa yang dicintai sang kekasih
Cinta Paling Agung itu... “Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah Dengan menaati sepenuh hati Kepada keduanya Sepenuh ridha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”
Inilah cinta teragung itu. Inilah festival ujian manusia apakah degup-degup nafas cintanya karena Allah dan RasulNya ataukah karena ihwal lain.
Itulah CINTA sesungguhnya. CINTA, yang tercermin dari keshahihan (kelurusan) ideologi yang dipahami oleh kita, mabda atau ideologi (Islam sebagai pedoman hidup)lah tentunya. Dari ideologi yang dipahami, dicerapinya itulah memancar sebuah sistem hidup (aturan), aturan yang terrambil hanya dari Kitabullah dan as Sunnah. Ideologinya tak pernah melenceng seujung rambut pun...
Tanpa cinta ini, hidup kan terasa hambar dirasa. Tak begitu bermakna, keluh kesah jiwanya, keruh matabatinnya. Kelam jalan hidupnya. Pekat hati dan jiwanya.
Duhai Cermin! Beningkan jiwaku! Ah usailah sudah pembahasan cemburu dan cinta, cinta dan cemburu tak begitu memengaruhi pabila kita membolak-balikkan dua kata itu. Ia selalu memilin, ia selalu berkelindan. Ia enggan memisah atau dipisah.
Masih tersisakah degup nafas kita... Masih terdetakkah degupan jantung kita... Masihkah berdenyutkah urat nadi-nadi kita...
Masihkah kita menikmati hangatnya cahayawi mentari pagi Masihkah teduhnya purnama hinggap di atas kepala kita... Masihkah mewarna indah pelangi menyapa jiwa kita...
Apakah kita sudah dinaungi cintaNya? Cinta sunnah RasulNya? Apakah kita telah cemburu...? Cemburu kala hukum Allah tak ada di mayapada Cemburu kala nama agung Nabi Saw terhina
Sudahkah sembah bakti tulus dan tersuci dari hati Teruntuk sepasang cinta yang menghadirkan kita di dunia Yang merawat kita dengan pesona kasih tulusnya Dekapannya Pelukannya Kecupan hangatnya Sudahkah??!!
Aduhai hatiku... Apa jawabmu??? Apakah engkau sudah membening? Hingga bisa kubecermin?
Duhai Pemilik Jiwa... Duhai Pemilik semesta raya
Jangan matikan rohku Jangan matikan jiwaku Jangan matikan sukmaku Jangan ... jangan Sebelum kubasahi diri mendekap taubah nasuha Sebelum kepeluk aura pelangi maghfirahMu Sebelum kepeluk syafaat baginda tercinta, Rasulullah saw, nan memulia
Jangan jauhkan kami dari jalan sunyi ini Jalan cintanya para NabiMu Sahabat-sahabat Rasulullah nan memulia Dan generasi terbaik sesudahnya
Semogalah kami masih mencicipi Lezat dan menikmatnya menerapkan syariatMu Menebarkan dakwah Islam ke sepenuh dunia Berjihad dengan tetes darah, raga, jiwa kami Mengibarkan panji Laa ilaaha illallah muhammad rasulullah...
Duhai Cinta ... Duhai Cemburu Cerminkanlah di hatiku...
“Allaahu a’lam bi ash shawaab”
Disaat detik-detik kepulanganku ke Riau YogyaMu, 070708 20.38 Sahabatmufillah,
Apu’ El Indragiry [Penyair, Tinggal di Yogya]
|
